“Apa
jati dirimu?”
Pertanyaan
itu yang selalu terngiang di telingaku sejak orang itu bertanya dua hari yang
lalu. Pertanyaan yang membuatku terdiam sejenak. Bukan karena aku tak bisa
menjawabnya, bukan pula karena aku tak tahu akan jawabannya. Tentu aku tahu.
Aku pernah membaca dari beberapa novel-novel remaja, dan aku sering mendapati
penulisnya menuliskan makna jati diri itu. Aku tahu apa jawabannya. Namun aku
hanya tak yakin, benarkah ini jati diriku? Jati diri seorang Mutia Nazwa?
Kutatap
lekat sebuah pantulan diri seorang perempuan di cermin seukuran tubuh. Rambut
hitamnya panjang hingga menyentuh punggung, indah berkilau di bawah sinar
matahari. Kulitnya kuning langsat dan bersih. Tingginya sekitar 165 cm, dan tak
ada cacat di bagian manapun dari tubuhnya. Itu adalah bayangan diriku. Apa yang
kurang? Tidak ada. Benarkah?
$$$
Lembaran-lembaran
putih berserakan menyelimuti hampir setiap sudut tempat tidurku. Sebenarnya lembaran
itu tak seputih dan bersih mulanya. Tinta-tinta hasil kerja kerasku memeras
otak sedari tadi malam tertuang di lembaran itu. Bila hilang selembar saja, aku
jamin lembaran-lembaran yang lain akan merasa tak bermanfaat lagi. Lembaran-lembaran
itu adalah bagian dari tugas sekolah pra ujianku. Sama sekali tak terpikirkan
dibenakku, bagaimana pemakaian kertas dan tisu yang berlebihan dapat berdampak
pada lingkungan. Tahu gak sih loe?
Semakin banyak kertas dan tisu yang digunakan, maka akan semakin banyak pohon
yang ditebang untuk pembuatannya. Aku memang bukan termasuk orang yang terlalu
peduli terhadap masalah lingkungan, jika dilihat dari segala kebiasaanku ini.
Negara saja sepertinya kurang peduli, penebangan liar marak beroperasi, limbah-limbah
perusahaan yang tak teratasi, ingat gak kasus lumpur porong dan sidoarjo? Huuuftt, apa tanggapan pemerintah?
Apakah pemerintah memberikan solusi yang dapat menuntaskan semua permasalahan
ini? Aku sih kurang minat masalah ini, so
what?
Rasa
kantuk mendera sesaat setelah print out
terakhir keluar dari printer, yang
menandakan ini saatnya bagi tubuhku mendapatkan jatah istirahatnya. Kupejamkan
mata perlahan mengiringi hembus napas kelelahan. Berharap setelah bangun nanti,
rasa lelah itu hilang bersama mimpi yang tak pernah aku ingat kala terbangun
dari tidur.
“Mutia…
Mutia…!!!” terdengar suara tante Agnes di balik pintu jati kamar
memanggil-manggil namaku.
Ya
Allah… aku sangat lelah saat ini… Baru saja ku coba pejamkan mata, tapi bising
itu membuatku harus beranjak dari singgasanaku. Huuuftt. Ini adalah satu di antara beberapa hal yang tak aku
senangi. Ku geser semua benda yang menghalangi langkahku menuju pintu dan
menghentikan kebisingan itu sebelum semua yang tak kuinginkan terjadi,
maksudnya membangkitkan naga tidur, Oom Nirwan. Yeah, Oom Nirwan memang tipikal
orang yang cepat emosian kalau mendengar suara ribut. Kugapai handle pintu, lalu kuputar kenopnya agar
terbuka di hadapan wajahku.
“Pak
Ridwan mengantarkan surat untukmu. Ini.” Ia menyodorkan sehelai amplop putih
dengan kepala surat bertuliskan nama sebuah perguruan tinggi negeri di kotaku,
Universitas Mulawarman.
$$$
Kutatap
sebuah buku seukuran komik Detective Conan, di covernya terdapat gambar bebek
berwarna kuning. Judul bukunya Jangan Jadi Bebek. Buku ini pemberian teman
semasa SMP ku beberapa minggu lalu. Katanya aku kudu baca. Saat pertama kali
bertemu lagi beberapa bulan yang lalu, aku kaget melihat penampilannya yang
berubah derastis. Aku menebak ia pasti masuk pesantren setelah lulus SMP. Kini
ia berbeda dari teman-temanku lainnya, ia jarang sekali bercakap dengan
laki-laki, bahkan sepertinya tak pernah. Saat berjalan ia selalu menundukkan
pandangannya. Apa gerangan yang membuat ia berubah seperti itu, entahlah.
Saat
membaca buku itu, emosi dalam diriku bergolak, aku tak terima atas gugatan yang
diberikan sang penulis pada pembaca. Seolah pembaca ialah orang buta yang perlu
dituntun untuk menyeberangi sungai. Darimana ia tahu jalan yang aku tempuh saat
ini salah? Aku baik-baik saja. Aku tetap seorang muslim walau tanpa gamis dan
kerudung yang dia sebutkan. Aku juga tetap bisa mendapatkan KTP walau tanpa
kain penutup kepala yang membuat gerah itu.
“Sebuah kebenaran tidak akan pernah kau raih
dengan jalan yang salah sampai kau benar-benar mengakhiri jalan yang salah
tersebut, dan memulai dengan jalan yang benar. Ingat, live is choice. Kebenaran itu mutlak, dan kebatilan itu juga
demikian. Untuk apa kita sibuk mengitari jalan yang salah ketika tahu jalan
yang benar, itu hanya akan membuang-buang waktu. Padahal kita enggak tahu ajal
kapan datangnya,” katanya saat mendengar curhatanku. Seperti dalam matematika,
analoginya ialah ketika plus dan minus disandingkan hasilnya mutlak tetap
minus. Aku benar-benar tergugat salah sekarang. Sahabatku memenjarakan aku
dalam perasaan galau takut akan neraka-Nya. Astaghfirullahaladzim…
Terimalah taubatku ini ya Allah.
$$$
Aku
pikir hidupku adalah sebuah jembatan yang cukup mampu menghantarkanku menuju
surga itu di mana. Aku mengerjakan sholat layaknya seorang muslim lainnya.
Puasa di bulan ramadhan. Ikut aktif dalam beberapa program sosial di sekolahku.
Yeah, walaupun aku juga adalah termasuk dalam kategori aktifis pacaran. Toh aku
tak pernah sampai mencoreng nama besar keluargaku dengan pergaulan bebas,
nge-seks, nge-drugs, de el el deh.
Shopping paling banter cuma seminggu dua kali. Orang tua masih berada dalam
lingkup kehidupanku, dan ayah adalah perangkat keras layaknya CCTV yang sangat
aku segani. Nilai-nilai belajarku memang terkadang suka up and down, tapi guru-guru selalu mengompor-ngompori orang tuaku
kalau nilai-nilai yang menurun itu
dikarenakan aktifitasku yang kurang bermanfaat. Maklum, guru terkadang enggan
disalahkan karena sistem pengajarannya yang low
quality.
Dari
seorang teman, aku belajar segalanya. Hidup itu tak sekedar untuk makan, namun
dari makan aku tahu cara hidup. Hidup itu bukan sekedar amanah, tersirat makna
di dalamnya bagi yang paham. Hidupku yang sekarang ini belum mampu
menghantarkanku menuju Jannah-Nya. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan para musafir,
ada tempat bukan di dunia ini di mana di situlah rumah kita sesungguhnya dan
akan kekal di dalamnya. Islam menjawab semua problematikaku, dan tentunya Insya
Allah untuk semuanya.
“Apa
jati dirimu?” Dia bertanya lagi.
Lidah
serasa kelu untuk mengucap kalimat
jawabannya. Aku tahu jawabannya!!! jerit
hatiku saat mendapat pertanyaan itu lagi. Kuhembuskan napas keletihanku melawan
rasa geram dalam relung hati. Kubiarkan diri ini kalah sekali lagi hanya dengan
pertanyaan kecil itu. Lisanku tak sanggup tuturkan bahasanya, bahwa aku bukan
Mutia Nazwa yang dulu.
Aku
membiarkan wanita berhijab itu melangkah menjauhiku, ia pergi dengan
meninggalkan jejak goresan dalam asaku. Perih kalbu ketika satu pertanyaan
mudah tak mampu terjawab. Jika ini adalah acara TV Who Wants to be A Millionaire, mungkin tamatlah riwayatku
mengharapkan 1 miliyar rupiah. Tapi ini bukan masalah uang, harta, atau
jabatan. Ketika aku menjawab pertanyaan itu, aku menjawabnya bukan karena
iming-iming langit, samudera serta seisi dunia boleh menjadi milikku. Bukan
pula bila aku berhasil ungkap jawabannya maka aku akan mendapat penghargaan
besar, seperti Nobel, saat jawabanku tepat dan sesuai dengan harapan si empunya
pertanyaan. Ini hanya soal bagaimana seorang “muslimah sejati” memberikan
jawabannya pada dunia. Dan itu selalu menjadi pe-er buat diriku sendiri untuk
mencari solusi terbaiknya agar kata-kata itu bisa terungkap.
$$$
Hari-hari
setelah kelulusan dari Sekolah Menengah Atas adalah ujian yang bukan sembarang
ujian menurutku. Dibenakku selalu terngiang kata-kata seorang guru baik hati
yang sampai detik ini aku kagumi pengabdiannya sebagai seorang pengajar. Ujian itu tidak hanya dalam lingkup sekolah,
bukan hanya pada saat ujian akhir nasional saja. Tapi ujian yang nyata itu
adalah nanti setelah kita keluar dari bangku sekolah ini. Yah, itulah
pernyataan seorang guru terbaik yang kukenal dalam menyampaikan persepsinya
mengenai arti secara ideologis, ujian itu
apa? Pernyataan yang menduniawi menurutku kini.
Beberapa bulan yang lalu, adalah masa-masa
jahiliyah, masa-masa buta, masa-masa kebodohan, masa-masa kelam, masa-masa
tanpa islam dalam hidupku. Ketika hati terlalu meremehkan satu kebohongan,
butuh seribu kebohongan untuk menutupi satu kebohongan itu. Namun nurani
sesungguhnya tahu, cukup dengan satu kejujuran untuk menyudahinya__ aku
menemukan kalimat ini di dinding Facebook
seorang ustad. Saat jiwa raga melakukan satu kesalahan namun lisan terlalu
angkuh mengucap kata maaf, sebenarnya hati paham. Barang siapa yang meminta
maaf dan memaafkan, maka ia adalah termasuk orang-orang yang hebat. Sewaktu
tangan terlalu ringan meluapkan emosi dan napsu membutakan pemikiran, di
situlah lemahnya hati dan nurani insan Illahi.
Setelah
seorang teman memberikan pemahamannya padaku dan aku tak menolak untuk akrab
dalam Islam, setelah aku belajar dan kini aku mengenal, setelah aku tinggalkan
masa-masa jahiliyahku, kini aku tahu dan aku memahami ujian sesungguhnya itu
bagaimana. Lucu juga rasanya melihat jejak-jejak jahiliyah yang telah tersimpan
rapi sebagai album kenangan. Celana jeans kini berganti dengan jilbab anggun.
Topi baseball kini berganti dengan kerudung indah. Pandangan Allah itu lebih
utama daripada pandangan manusia yang hanyalah sebagai hamba-Nya. Kemanapun
melangkah seolah di jidatku kini tertulis “Say
No To Pergaulan Bebas!!!”
Sesosok
bayangan menyerupai diriku terpantul di dalam cermin seukuran tubuh. Hijab biru
yang kukenakan hari ini terlihat lebih panjang dari kemarin. Ini mengingatkanku
suatu memori saat diriku pertama kali mengenakan kerudung dan jilbab. Seorang ibu
muda yang tapa sengaja kutemui di angkutan umum bertanya padaku, “Adik mondok
di mana? Bajunya panjang banget, apa gak panas tuh pakai kerudung segede gitu?”
Dengan
santai namun malu-malu aku menjawab pertanyaannya itu, ”Maaf bu, saya tidak
mondok di mana- mana. Ini hanya pilihan hidup saya. Baju yang saya kenakan ini
jilbab namanya, dan penutup kepala ini yang namanya kerudung. Memang bu, saya
merasakan panas, sumu’ ketika mengenakannya. Tapi saya jauh lebih tak tahan
lagi jika api neraka menjilati tubuh saya nanti di akhirat apabila saya tak
menutup aurat saya dengan jilbab dan kerudung ini.”
Pernah
beberapa kali aku temui dalam even
seminar muslimah yang membahas topik Jilbab dan Kerudung. Seorang perempuan
berkerudung yang terlilit di atas kepalanya bertanya pada ustadzah yang tengah
mengisi seminar itu. Lucu mengenang kejadiannya, karena aku pernah berada di
posisi perempuan itu.
“Ustadzah,
apa sih bedanya kerudung sama jilbab? Kan sama aja?”
“Memang
dalam pembicaraan sehari-hari umumnya masyarakat menganggap jilbab sama dengan
kerudung. Anggapan ini kurang tepat, adik. Jilbab tak sama dengan kerudung.
Jilbab adalah busana bagian bawah berupa jubah, yaitu baju longgar terusan yang
dipakai di atas baju rumahan, semisal long
dress. Sedang kerudung merupakan busana bagian atas yaitu penutup kepala
yang menjulur hingga menutupi dada. Jilbab dan kerudung ini merupakan kewajiban
atas perempuan muslimah yang ditunjukkan oleh dua ayat Al-Qur`an yang berbeda. Kewajiban
jilbab terdapat dalam surah Al-Ahzab ayat 59, sedang kewajiban kerudung atau
dalam bahasa arabnya disebut khimar terdapat dalam surah An-Nur ayat 31. Coba
deh, dibaca Al-Qur’annya.” Jawab beliau dengan lantang.
$$$
Aku
memutuskan, hari ini aku akan memberikan jawabanku padanya. Aku harus menghapus
kata Tidak Bisa dalam kamus bicaraku, dan menghilangkan kata Tidak Mungkin
dalam pemikiranku. Ganti menjadi pertanyaan untuk diri sendiri “Mau atau Tidak
Mau?” Jika mau, aku memerlukan seribu macam usaha untuk mengerjakannya. Namun
jika aku tidak mau, aku pasti akan mengeluarkan seribu macam alasan. Begitu
pemahamanku setelah membaca sebuah buku motivasi.
“Apa
jati dirimu sekarang?”
“Aku
muslimah, hijab adalah identitasku.” Jawabku singkat, namun sarat dengan makna.
Senyum
tersungging di belahan bibir perempuan berhijab itu. Angin sepoi berdesir di
sekitar wajahku. Menyibak sedikit geraian hijab yang menutupi dada. Ada getaran
cinta dalam kata-kata yang baru saja aku utarakan. Sebulir keringat perjuangan
mengalir menghantarkan diri pada pucuk kemenangan. Aku bisa menjawabnya!!! Jeritku
dalam hati.
Hijabku
ialah identitas diriku, sebagai bukti bahwa Mutia Nazwa ialah seorang muslimah
tulen. Tidak sekedar KTP belaka. Tidak sekedar kata-kata penghantar seorang
penulis dalam sebuah buku, melainkan isinya yang menentukan kualitas. Jilbab
yang menjulur hingga menutupi seluruh bagian tubuh dan khimar atau kerudung
yang menutupi dada, inilah perintah Allah yang senantiasa selalu aku terapkan
kemanapun sekarang.
Buat
apa takut pada tanggapan orang lain, bukankah pandangan Allah lebih utama dari
pandangan makhluk? Yang seharusnya perlu kita takutkan ialah azab Allah jika
kita tak bersegera mentaati segala perintah-Nya. Bukankah Allah adalah
sebaik-baik pencipta, yang telah menciptakan wanita untuk melahirkan
generasi-generasi terbaik? Bukankah Allah telah menciptakan makhluk-makhluk-Nya
beserta manual instruction-Nya yaitu
Al-Qur’an untuk di patuhi segala alur dan tata tertib berkehidupan di bumi-Nya
ini. Waullahu ‘alam.
By
: Uni Amatullah



