Minggu, 01 Juli 2012

Apa Jati Dirimu?

“Apa jati dirimu?”
Pertanyaan itu yang selalu terngiang di telingaku sejak orang itu bertanya dua hari yang lalu. Pertanyaan yang membuatku terdiam sejenak. Bukan karena aku tak bisa menjawabnya, bukan pula karena aku tak tahu akan jawabannya. Tentu aku tahu. Aku pernah membaca dari beberapa novel-novel remaja, dan aku sering mendapati penulisnya menuliskan makna jati diri itu. Aku tahu apa jawabannya. Namun aku hanya tak yakin, benarkah ini jati diriku? Jati diri seorang Mutia Nazwa?
Kutatap lekat sebuah pantulan diri seorang perempuan di cermin seukuran tubuh. Rambut hitamnya panjang hingga menyentuh punggung, indah berkilau di bawah sinar matahari. Kulitnya kuning langsat dan bersih. Tingginya sekitar 165 cm, dan tak ada cacat di bagian manapun dari tubuhnya. Itu adalah bayangan diriku. Apa yang kurang? Tidak ada. Benarkah?
$$$
Lembaran-lembaran putih berserakan menyelimuti hampir setiap sudut tempat tidurku. Sebenarnya lembaran itu tak seputih dan bersih mulanya. Tinta-tinta hasil kerja kerasku memeras otak sedari tadi malam tertuang di lembaran itu. Bila hilang selembar saja, aku jamin lembaran-lembaran yang lain akan merasa tak bermanfaat lagi. Lembaran-lembaran itu adalah bagian dari tugas sekolah pra ujianku. Sama sekali tak terpikirkan dibenakku, bagaimana pemakaian kertas dan tisu yang berlebihan dapat berdampak pada lingkungan. Tahu gak sih loe? Semakin banyak kertas dan tisu yang digunakan, maka akan semakin banyak pohon yang ditebang untuk pembuatannya. Aku memang bukan termasuk orang yang terlalu peduli terhadap masalah lingkungan, jika dilihat dari segala kebiasaanku ini. Negara saja sepertinya kurang peduli, penebangan liar marak beroperasi, limbah-limbah perusahaan yang tak teratasi, ingat gak kasus lumpur porong dan sidoarjo? Huuuftt, apa tanggapan pemerintah? Apakah pemerintah memberikan solusi yang dapat menuntaskan semua permasalahan ini? Aku sih kurang minat masalah ini, so what?
Rasa kantuk mendera sesaat setelah print out terakhir keluar dari printer, yang menandakan ini saatnya bagi tubuhku mendapatkan jatah istirahatnya. Kupejamkan mata perlahan mengiringi hembus napas kelelahan. Berharap setelah bangun nanti, rasa lelah itu hilang bersama mimpi yang tak pernah aku ingat kala terbangun dari tidur.
“Mutia… Mutia…!!!” terdengar suara tante Agnes di balik pintu jati kamar memanggil-manggil namaku.
Ya Allah… aku sangat lelah saat ini… Baru saja ku coba pejamkan mata, tapi bising itu membuatku harus beranjak dari singgasanaku. Huuuftt. Ini adalah satu di antara beberapa hal yang tak aku senangi. Ku geser semua benda yang menghalangi langkahku menuju pintu dan menghentikan kebisingan itu sebelum semua yang tak kuinginkan terjadi, maksudnya membangkitkan naga tidur, Oom Nirwan. Yeah, Oom Nirwan memang tipikal orang yang cepat emosian kalau mendengar suara ribut. Kugapai handle pintu, lalu kuputar kenopnya agar terbuka di hadapan wajahku.
“Pak Ridwan mengantarkan surat untukmu. Ini.” Ia menyodorkan sehelai amplop putih dengan kepala surat bertuliskan nama sebuah perguruan tinggi negeri di kotaku, Universitas Mulawarman.
$$$
Kutatap sebuah buku seukuran komik Detective Conan, di covernya terdapat gambar bebek berwarna kuning. Judul bukunya Jangan Jadi Bebek. Buku ini pemberian teman semasa SMP ku beberapa minggu lalu. Katanya aku kudu baca. Saat pertama kali bertemu lagi beberapa bulan yang lalu, aku kaget melihat penampilannya yang berubah derastis. Aku menebak ia pasti masuk pesantren setelah lulus SMP. Kini ia berbeda dari teman-temanku lainnya, ia jarang sekali bercakap dengan laki-laki, bahkan sepertinya tak pernah. Saat berjalan ia selalu menundukkan pandangannya. Apa gerangan yang membuat ia berubah seperti itu, entahlah.
Saat membaca buku itu, emosi dalam diriku bergolak, aku tak terima atas gugatan yang diberikan sang penulis pada pembaca. Seolah pembaca ialah orang buta yang perlu dituntun untuk menyeberangi sungai. Darimana ia tahu jalan yang aku tempuh saat ini salah? Aku baik-baik saja. Aku tetap seorang muslim walau tanpa gamis dan kerudung yang dia sebutkan. Aku juga tetap bisa mendapatkan KTP walau tanpa kain penutup kepala yang membuat gerah itu.
 “Sebuah kebenaran tidak akan pernah kau raih dengan jalan yang salah sampai kau benar-benar mengakhiri jalan yang salah tersebut, dan memulai dengan jalan yang benar. Ingat, live is choice. Kebenaran itu mutlak, dan kebatilan itu juga demikian. Untuk apa kita sibuk mengitari jalan yang salah ketika tahu jalan yang benar, itu hanya akan membuang-buang waktu. Padahal kita enggak tahu ajal kapan datangnya,” katanya saat mendengar curhatanku. Seperti dalam matematika, analoginya ialah ketika plus dan minus disandingkan hasilnya mutlak tetap minus. Aku benar-benar tergugat salah sekarang. Sahabatku memenjarakan aku dalam perasaan galau takut akan neraka-Nya. Astaghfirullahaladzim… Terimalah taubatku ini ya Allah.
$$$
Aku pikir hidupku adalah sebuah jembatan yang cukup mampu menghantarkanku menuju surga itu di mana. Aku mengerjakan sholat layaknya seorang muslim lainnya. Puasa di bulan ramadhan. Ikut aktif dalam beberapa program sosial di sekolahku. Yeah, walaupun aku juga adalah termasuk dalam kategori aktifis pacaran. Toh aku tak pernah sampai mencoreng nama besar keluargaku dengan pergaulan bebas, nge-seks, nge-drugs, de el el deh. Shopping paling banter cuma seminggu dua kali. Orang tua masih berada dalam lingkup kehidupanku, dan ayah adalah perangkat keras layaknya CCTV yang sangat aku segani. Nilai-nilai belajarku memang terkadang suka up and down, tapi guru-guru selalu mengompor-ngompori orang tuaku kalau nilai-nilai yang  menurun itu dikarenakan aktifitasku yang kurang bermanfaat. Maklum, guru terkadang enggan disalahkan karena sistem pengajarannya yang low quality.
Dari seorang teman, aku belajar segalanya. Hidup itu tak sekedar untuk makan, namun dari makan aku tahu cara hidup. Hidup itu bukan sekedar amanah, tersirat makna di dalamnya bagi yang paham. Hidupku yang sekarang ini belum mampu menghantarkanku menuju Jannah-Nya. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan para musafir, ada tempat bukan di dunia ini di mana di situlah rumah kita sesungguhnya dan akan kekal di dalamnya. Islam menjawab semua problematikaku, dan tentunya Insya Allah untuk semuanya.
“Apa jati dirimu?” Dia bertanya lagi.
Lidah serasa kelu untuk mengucap kalimat jawabannya. Aku tahu jawabannya!!! jerit hatiku saat mendapat pertanyaan itu lagi. Kuhembuskan napas keletihanku melawan rasa geram dalam relung hati. Kubiarkan diri ini kalah sekali lagi hanya dengan pertanyaan kecil itu. Lisanku tak sanggup tuturkan bahasanya, bahwa aku bukan Mutia Nazwa yang dulu.
Aku membiarkan wanita berhijab itu melangkah menjauhiku, ia pergi dengan meninggalkan jejak goresan dalam asaku. Perih kalbu ketika satu pertanyaan mudah tak mampu terjawab. Jika ini adalah acara TV Who Wants to be A Millionaire, mungkin tamatlah riwayatku mengharapkan 1 miliyar rupiah. Tapi ini bukan masalah uang, harta, atau jabatan. Ketika aku menjawab pertanyaan itu, aku menjawabnya bukan karena iming-iming langit, samudera serta seisi dunia boleh menjadi milikku. Bukan pula bila aku berhasil ungkap jawabannya maka aku akan mendapat penghargaan besar, seperti Nobel, saat jawabanku tepat dan sesuai dengan harapan si empunya pertanyaan. Ini hanya soal bagaimana seorang “muslimah sejati” memberikan jawabannya pada dunia. Dan itu selalu menjadi pe-er buat diriku sendiri untuk mencari solusi terbaiknya agar kata-kata itu bisa terungkap.
$$$
Hari-hari setelah kelulusan dari Sekolah Menengah Atas adalah ujian yang bukan sembarang ujian menurutku. Dibenakku selalu terngiang kata-kata seorang guru baik hati yang sampai detik ini aku kagumi pengabdiannya sebagai seorang pengajar. Ujian itu tidak hanya dalam lingkup sekolah, bukan hanya pada saat ujian akhir  nasional saja. Tapi ujian yang nyata itu adalah nanti setelah kita keluar dari bangku sekolah ini. Yah, itulah pernyataan seorang guru terbaik yang kukenal dalam menyampaikan persepsinya mengenai arti secara ideologis, ujian itu apa? Pernyataan yang menduniawi menurutku kini.
 Beberapa bulan yang lalu, adalah masa-masa jahiliyah, masa-masa buta, masa-masa kebodohan, masa-masa kelam, masa-masa tanpa islam dalam hidupku. Ketika hati terlalu meremehkan satu kebohongan, butuh seribu kebohongan untuk menutupi satu kebohongan itu. Namun nurani sesungguhnya tahu, cukup dengan satu kejujuran untuk menyudahinya__ aku menemukan kalimat ini di dinding Facebook seorang ustad. Saat jiwa raga melakukan satu kesalahan namun lisan terlalu angkuh mengucap kata maaf, sebenarnya hati paham. Barang siapa yang meminta maaf dan memaafkan, maka ia adalah termasuk orang-orang yang hebat. Sewaktu tangan terlalu ringan meluapkan emosi dan napsu membutakan pemikiran, di situlah lemahnya hati dan nurani insan Illahi.
Setelah seorang teman memberikan pemahamannya padaku dan aku tak menolak untuk akrab dalam Islam, setelah aku belajar dan kini aku mengenal, setelah aku tinggalkan masa-masa jahiliyahku, kini aku tahu dan aku memahami ujian sesungguhnya itu bagaimana. Lucu juga rasanya melihat jejak-jejak jahiliyah yang telah tersimpan rapi sebagai album kenangan. Celana jeans kini berganti dengan jilbab anggun. Topi baseball kini berganti dengan kerudung indah. Pandangan Allah itu lebih utama daripada pandangan manusia yang hanyalah sebagai hamba-Nya. Kemanapun melangkah seolah di jidatku kini tertulis “Say No To Pergaulan Bebas!!!”
Sesosok bayangan menyerupai diriku terpantul di dalam cermin seukuran tubuh. Hijab biru yang kukenakan hari ini terlihat lebih panjang dari kemarin. Ini mengingatkanku suatu memori saat diriku pertama kali mengenakan kerudung dan jilbab. Seorang ibu muda yang tapa sengaja kutemui di angkutan umum bertanya padaku, “Adik mondok di mana? Bajunya panjang banget, apa gak panas tuh pakai kerudung segede gitu?”
Dengan santai namun malu-malu aku menjawab pertanyaannya itu, ”Maaf bu, saya tidak mondok di mana- mana. Ini hanya pilihan hidup saya. Baju yang saya kenakan ini jilbab namanya, dan penutup kepala ini yang namanya kerudung. Memang bu, saya merasakan panas, sumu’ ketika mengenakannya. Tapi saya jauh lebih tak tahan lagi jika api neraka menjilati tubuh saya nanti di akhirat apabila saya tak menutup aurat saya dengan jilbab dan kerudung ini.”
Pernah beberapa kali aku temui dalam even seminar muslimah yang membahas topik Jilbab dan Kerudung. Seorang perempuan berkerudung yang terlilit di atas kepalanya bertanya pada ustadzah yang tengah mengisi seminar itu. Lucu mengenang kejadiannya, karena aku pernah berada di posisi perempuan itu.
“Ustadzah, apa sih bedanya kerudung sama jilbab? Kan sama aja?”
“Memang dalam pembicaraan sehari-hari umumnya masyarakat menganggap jilbab sama dengan kerudung. Anggapan ini kurang tepat, adik. Jilbab tak sama dengan kerudung. Jilbab adalah busana bagian bawah berupa jubah, yaitu baju longgar terusan yang dipakai di atas baju rumahan, semisal long dress. Sedang kerudung merupakan busana bagian atas yaitu penutup kepala yang menjulur hingga menutupi dada. Jilbab dan kerudung ini merupakan kewajiban atas perempuan muslimah yang ditunjukkan oleh dua ayat Al-Qur`an yang berbeda. Kewajiban jilbab terdapat dalam surah Al-Ahzab ayat 59, sedang kewajiban kerudung atau dalam bahasa arabnya disebut khimar  terdapat dalam surah An-Nur ayat 31. Coba deh, dibaca Al-Qur’annya.” Jawab beliau dengan lantang.
$$$
Aku memutuskan, hari ini aku akan memberikan jawabanku padanya. Aku harus menghapus kata Tidak Bisa dalam kamus bicaraku, dan menghilangkan kata Tidak Mungkin dalam pemikiranku. Ganti menjadi pertanyaan untuk diri sendiri “Mau atau Tidak Mau?” Jika mau, aku memerlukan seribu macam usaha untuk mengerjakannya. Namun jika aku tidak mau, aku pasti akan mengeluarkan seribu macam alasan. Begitu pemahamanku setelah membaca sebuah buku motivasi.
“Apa jati dirimu sekarang?”
“Aku muslimah, hijab adalah identitasku.” Jawabku singkat, namun sarat dengan makna.
Senyum tersungging di belahan bibir perempuan berhijab itu. Angin sepoi berdesir di sekitar wajahku. Menyibak sedikit geraian hijab yang menutupi dada. Ada getaran cinta dalam kata-kata yang baru saja aku utarakan. Sebulir keringat perjuangan mengalir menghantarkan diri pada pucuk kemenangan. Aku bisa menjawabnya!!!  Jeritku dalam hati.
Hijabku ialah identitas diriku, sebagai bukti bahwa Mutia Nazwa ialah seorang muslimah tulen. Tidak sekedar KTP belaka. Tidak sekedar kata-kata penghantar seorang penulis dalam sebuah buku, melainkan isinya yang menentukan kualitas. Jilbab yang menjulur hingga menutupi seluruh bagian tubuh dan khimar atau kerudung yang menutupi dada, inilah perintah Allah yang senantiasa selalu aku terapkan kemanapun sekarang.
Buat apa takut pada tanggapan orang lain, bukankah pandangan Allah lebih utama dari pandangan makhluk? Yang seharusnya perlu kita takutkan ialah azab Allah jika kita tak bersegera mentaati segala perintah-Nya. Bukankah Allah adalah sebaik-baik pencipta, yang telah menciptakan wanita untuk melahirkan generasi-generasi terbaik? Bukankah Allah telah menciptakan makhluk-makhluk-Nya beserta manual instruction-Nya yaitu Al-Qur’an untuk di patuhi segala alur dan tata tertib berkehidupan di bumi-Nya ini. Waullahu ‘alam.

By : Uni Amatullah

Keluh Kesah


01. dear, ada hadits menarik dari Rasulullah, dikutip dari 'Munabbihat 'ala Isti'dad li Yaumil Ma'ad'-nya Al-Hafidz Ibnu Hajar
02. Rasul bersabda, "sesiapa di pagi hari keluhkan kesulitan hidupnya (pada manusia), maka seakan dia keluhkan Rabb-nya" Felix Siauw
03. Rasul lanjut, "sesiapa di pagi hari dan karena urusan dunia dia bersedih, sama saja di pagi itu dia tidak puas akan ketentan Allah"
04. dilisankan Nabi pula, "dan sesiapa hormati seorang kaya karena harta-bendanya, sungguh telah lenyap 1/3 agamanya"
05. subhanallah, begitu bijak nasihat Rasulullah pada setiap insan yang masih diberikan izin-Nya untuk membuka mata dan nikmati waktu
06. memulai hari dengan berkeluh-kesah akan hasilkan pesimisme yang tiada menolong siapapun jalani hari penuh karunia
07. padahal Rabb kita, Allah telah turunkan rahmat tak terhitung, dan rezeki tak terkira | tentu hanya bisa ditatap oleh mata yg bersyukur
08. bagaimana mungkin kita mengeluh terhadap semua kesempatan yang ada di hadapan? dunia terbuka begitu luas bagi yang ingin usahakan diri
09. kesulitan adalah niscaya saat masih hidup | jangankan hidup, setelah hidup saja mungkin akan hadapi kesulitan
10. dan perlu dipahami bahwa tiada satupun kesulitan yang bisa diselesaikan dengan keluhan | bahkan mengeluh adalah satu kesulitan pula
11. bersyukur dengan apa yang ada pagi ini, pikirkan apa yang kita ingin lakukan sampai berakhirnya hari | jangan beri waktu bagi keluhan
12. sebagaimana urusan duniawi tidak pernah akan memuaskan | karena kepuasan bukan datang dari luar diri tetapi dari dalam hati
13. bagi setiap insan ada ketentuan baginya | tugasnya bukan menghitung ketentuan yang telah diberi, tapi memaksimalkan pemberian yang ada
14. bila masih kita mengeluh atas urusan duniawi kita | perlulah membaca kisah Rasul dan shahabatnya, adakah dunia mereka nikmati?
15. bagi Rasul dan shahabatnya, tidak lain dunia adalah alat, bagi mereka urusan dunia itu remeh-temeh bila tak ada kaitan dengan akhirat
16. adakah generasiu terbaik khawatirkan urusan dunia mereka? | maka sikap qana'ah yang dicontohkan mereka hendaklah ditiru
17. berpuas diri dengan apa yang Allah berikan, mencukupkan diri dengan apa yang ditentukan | adalah bagian kebaikan bagi Muslim
18. bukan berarti Islam batasi ambisi | silahkan jika itu berarti untuk perjuangan Islam, namun bersedih karena dunia itu tiada pantas
19. bila bersedihnya hamba karena dunia tidaklah pantas | tentu hamba yang berbangga karena dunia lebih tak pantas
20. apalagi membanggakan orang karena harta, menaruhnya pada posisi istimewa karena harta, mendekatinya karena harta? | menggelikan
21. bila mendekat karena harta, tentu yang diinginkan bukan ibadah | bila menjauh karena harta, tentu itu bagian dari niat yg salah
22. seperti Rasul kita hormati karena ia utusan Allah, khulafaurrasyidin kita hormati karena teguh pada sunnah Rasul | itulah sebenar hormat
23. maka dengan ketakwaan seharusnya tinggi derajat | bila karena harta ia ditinggikan, bisa pula tinggi dia yg jahat dan yang bejat
24. semoga pagi ini menjadi satu kali lagi pagi dimana kita bisa penuhi dengan amal-amal wajib, dan kita hiasi dengan amal-amal sunnah

By : Ustadz Felix Siauw

Sabtu, 30 Juni 2012

Waktu


01. aneh ya, betapa satu hari semua orang sama2 24 jam tapi hasil tiap2 orang beda2, padahal waktu nggak pernah pilih kasih..
02. ada yg sama2 30 tahun, yg satu udah nulis 10 buku yg manfaat n dakwahnya kenceng, yg satu lagi baca pun males, apalagi nulis..
03. orang yg males mikir akan bilang, ah semua kan sudah ada t...akdirnya masing2, "nrimo aja lah" >> kayaknya bener padahal 100% salah
04. bersembunyi di balik takdir dan garis tangan adl sesuatu yg biasanya dilakukan org yg nggak tanggung jawab, males usaha..
05. takdir dlm Islam adl perkara2 yg gak mampu kt pilih, bukan perkara yang mampu kita pilih, bentuk wajah, mata, jenis kelamin >> takdir
06. tp kl mukmin-kafir, baik-buruk, prestasi-nggak, itu pilihan, bukan takdir, dan kita akan dihisab karena pilihan2 kita itu..
07. balik lagi, knapa ada org yg bener2 berbeda pdhl umurnya sama? >> logis nya, 24 jam yg dia punya pasti dimanfaatkan berbeda dgn yg lain
08. “Anytime you see someone more successful than you are, they are doing something you aren’t” begitu ujar Malcolm X
09. mulailah bertanggung jawab atas hidup kita sendiri, dan berhenti menyalahkan takdir atau apalah atas prestasi yang belum bisa kita raih
10. percaya deh, kl kita berhenti menyalahkan takdir, energi kita akan lebih banyak kita gunakan untuk 'bagaimana' meraih prestasi..
11. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri" >> inget kan :)
12. takdir itu bukan untuk dibahas, tapi untuk diimani >> pilihan2 itu yang harus dibahas dan diusahakan, karena akan dihisab Allah
13. menyalahkan takdir itu bikin pesimis dan hilang smangat, sedangkan fokus pada pilihan2 yg bisa kita lakukan itu bikin optimis n smangat
14. jadi berhenti ngeluh, dan mulai action skarang juga, insya Allah dalam waktu dekat kita akan liat hasilnya :)

By : Ustadz Felix Siauw

Rabu, 13 Juni 2012

Sistem Gerak Pada Manusia



A.    Rangka
      1.      Fungsi rangka tubuh
a.       Melindungi bagian tubuh yang lunak
b.      Tempat melekatnya otot
c.       Menegakkan dan memberi bentuk badan
d.      Tempat pembentukan sel darah merah dan sel darah putih, khususnya di sumsum tulang
e.       Sebagai alat gerak pasif
      2.      Macam-macam tulang berdasarkan bentuk
a.       Tulang pipa
Contoh: tulang paha, tulang kering, tulang hasta dan tulang pengumpil
b.      Tulang pipih atau gepeng
Tulang ini mengandung sumsum merah yang berfungsi sebagai tempat pembentukan sel darah merah dan sel darah putih
Contoh: tulang rusuk, tulang dada, tulang panggul, tulang dahi, dan tulang belikat
c.       Tulang pendek
Tulang pendek mengandung sumsum merah.
Contoh: tulang pergelangan tangan, tulang pergelangan kaki, dan ruas tulang belakang.
      3.      Macam-macam tulang berdasarkan struktur
a.       Tulang rawan
§  Tulang rawan tersusun atas sel tulang rawan (kondrosit) yang menghasilkan matriks kondrion yang bersifat lentur
§  Tulang rawan bersifat lentur karena ruang antarselnya berisi banyak zat perekat dan sedikit zat kapur
§  Tulang rawan antara lain terdapat pada cincin batang tenggorokan, cuping hidung, daun telinga, dan saluran Eustachius
b.      Tulang keras (sejati)
§  Tulang keras tersusun atas sel tulang (osteosit). Matriks tulang mengandung zat kapur dan fosfor sehingga menjadi keras dan tidak lentur
§  Berdasarkan sifat bahan penyusunnya, tulang keras dapat dibedakan menjadi tulang kompak dan tulang spons
§  Beberapa jenis tulang keras berasal dari tulang rawan. Proses pembentukan tulang keras dari tulang rawan disebut osifikasi. Jenis tulang keras lainnya berasal dari proses perkembangan sel tulang
      4.      Susunan kerangka manusia
a.       Rangka aksial
1)      Tulang tengkorak
a)      Bagian kepala: tulang dahi, tulang ubun-ubun, tulang kepala belakang, tulang baji, tulang tapis, dan tulang pelipis
b)      Bagian wajah: tulang rahang atas, tulang rahang bawah, tulang pipi, tulang langit-langit, tulang hidung, tulang air mata, dan tulang pangkal lidah
2)      Ruas tulang belakang: ruas tulang leher (serviks), ruas tulang punggung (toraks), ruas tulang pinggang (lumbai), ruas kelangkang bersatu (sakrum), dan ruas tulang ekor bersatu (koksigea)
3)      Tulang dada: hulu, badan, taju pedang
4)      Tulang rusuk: rusuk sejati, rusuk palsu, dan rusuk melayang
b.      Rangka apendikular
1)      Gelang bahu: tulang belikat (skapula), dan tulang selangka (klavikula)
2)      Gelang panggul: tulang usus, tulang duduk, dan tulang kemaluan
3)      Lengan: tulang lengan atas (humerus), tulang hasta (ulna), tulang pengumpil (radius), tulang pergelangan tangan (karpal), tulang telapak tangan (metakrapal), dan ruas tulang jari tangan (falang)
4)      Tungkai (kaki): tulang paha (femur), tulang tempurung lutut (patela), tulang betis (fibula), tulang pergelangan kaki  (tarsus), tulang telapak kaki (metatarsus), dan ruas tulang jari kaki (falang)